Minggu, 28 Oktober 2012

Budaya, Ubala ITB, dan Lampung Gham

Budaya adalah salah satu isu yang sangat menarik diperbincangkan. Republik kita sering dielu-elukan orang sebagai salah satu negara dengan kebudayaan yang sangat kaya dan beragam. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kita juga sering mendengar kebudayaan A sudah punah, atau bahasa B sudah punah. Betapa bodohnya kita sebagai pewaris membiarkan warisan kebudayaan berharga itu hilang begitu saja.

Saya sebagai mahasiswa ITB sangat senang terhadap budaya bangga terhadap kebudayaan, terutama kebudayaan tradisional Indonesia, yang tumbuh subur di ITB. Walau ITB merupakan kampus teknologi, mahasiswanya sangat senang melestarikan kebudayaan Indonesia.

Saya sendiri sekarang tergabung dalam Unit Budaya Lampung ITB, atau disingkat menjadi Ubala ITB. Unit kami sendiri berfokus pada pelestarian seni dan budaya dari daerah Lampung, di samping menjadi tempat untuk berkumpulnya mahasiswa Lampung. Kami, Ubala ITB, tidak main-main dengan komitmen melestarikan Budaya Lampung. Kami aktif mengikuti acara bertemakan kebudayaan tradisional, baik di dalam kampus seperti Pagelaran Seni Budaya ITB dan Open House Unit ITB, maupun luar kampus seperti pagelaran seni di dago car free day dan di IT Telkom. Ubala ITB bahkan sudah pernah pentas di acara Etnho Sounds Asia yang diadakan di teater outdoor Esplenade Singapura.














Jika membicarakan tentang budaya Lampung, sebenarnya keadaannya cukup miris, terutama di daerah perkotaan. Pemuda di Bandarlampung, misalnya, cenderung malu dan tidak bangga terhadap kebudayaan Lampung. Di kota itu, sangat jarang ditemukan orang bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Lampung. Pemuda yang mampu menarikan tari tradisional dan alat musik tradisional juga sudah minim.

Di luar Lampung, pengetahuan masyarakat tentang budaya dan daerah Lampung juga masih minim. Hal ini sangat tampak saat saya pertama kali menjadi mahasiswa ITB. Saat baru pertama kali berkenalan dan bilang bahwa saya berasal dari daerah Lampung, kebanyakan kenalan saya bereaksi ‘wah, Lampung itu yang Kangen Band ya?’, ‘oh, Lampung itu keripik pisang ya?’, ‘Lampung itu yang banyak premannya ya?’ dan sebagainya. Kebanyakan tentang kangen band dan keripik pisang.

Padahal jika kita amati lebih dalam, Lampung adalah daerah yang amat kaya. Rempah-rempah, kopi luwak, pantai kiluan, pantai krui, tari-tarian, musik, semuanya ada di sini. Bahkan pada zaman kerajaan Tulang Bawang dulu, orang Cina sudah datang ke Lampung dan mencatat tentang daerah Tulang Bawang beserta kekayaan di dalamnya.

Sebagai mahasiswa yang tergabung dalam Unit Budaya Lampung, kami mempunyai keinginan kuat untuk memperkenalkan kekayaan daerah Lampung kepada masyarakat Bandung, khususnya mahasiswa ITB, yang katanya merupakan miniatur masyarakat Indonesia. Kami juga tentunya tidak sendirian. Kami mengajak mahasiswa kampus-kampus Lain di Bandung yang berasal dari Lampung, seperti dari UPI (Gamalupi), IT Telkom (Permata), Unpad(Commel), dan asrama mahasiswa Lampung-Bandung.

Acara yang bernama Lampung Gham ini kami realisasikan dalam beberapa sub-acara. Ada pawai yang bertemakan Budaya Lampung secara general, konser budaya, dan juga malam pagelaran. Pawai akan diadakan pada minggu-minggu awal bulan November di car free day jalan Dago. Konser budaya akan diselenggarakan di kampus ITB pada pertengahan November, dan puncaknya adalah malam pagelaran yang mengusung seluruh kekayaan daerah Lampung, termasuk seni dan budayanya, pada tanggal 23 November di Kampus ITB. Pada malam pagelaran, kami seluruh mahasiswa Lampung yang berkuliah di Bandung akan all-out dalam menampilkan tampilan yang tentunya sangat menghibur dan informatif.

Salah satu masalah terbesar yang kami dapati dalam penyelenggaraan acara ini adalah pendanaan. Nampaknya sudah cukup sulit menemukan lembaga yang ingin mendanai acara yang bertemakan kebudayaan tradisional. Padahal acara dijadwalkan kurang lebih sebulan lagi, tapi jujur masih sulit sekali untuk pendanaannya. Jika ada teman-teman yang membaca blog ini dan ingin membantu acara kami, jangan malu-malu, segera kontak saya melalui email kevinmarojahan@yahoo.com.

Tidak ada komentar: